Jadilah Proaktifby, Ellies Sutrisna Orang-orang sukses biasanya proaktif. Mereka selalu mengandalkan upaya mereka sendiri dan mereka melakukan apapun yang diperlukan untuk meraih sukses. Perilaku orang-orang proaktif tidak dikendalikan oleh kondisi eksternal karena mereka mampu memilih respon. Mereka pun mampu berperilaku berdasarkan pilihan yang diambil secara sadar, tidak pernah didasarkan pada keadaan di dalam diri mereka (sedih, marah, dan sebagainya). Seiap hari pasti ada pengaruh atau rangsangan eksternal (entah fisik atau prikologis) dan seringkali dapat mempengaruhi kondisi emosi kita. Namun, respon dan reaksi orang-orang yang proaktif merupakan pilihan-pilihan yang dibuat secara sadar dan didasarkan pada harapan-harapan yang optimistik. Simak contoh di bawah ini. Orang yang reaktif sering dipengaruhi oleh lingkungan fisik mereka. Misalnya apabila hari cerah, suasana hati mereka cerah dan mereka bekerja dengan semangat. sebaliknya, apabila hari mendung, suasana hati mereka juga mendung. Sikap mereka akan terpengaruh, demikian juga dengan prestasi kerja mereka. Orang -orang yang proaktif memfokuskan upaya pada tindakan dan akibat yang dapat mereka kontrol. Energi yang mereka hasilkan sifatnya positif menular, meluas, dan membesar. Hal ini akan menciptakan situasi yang memungkinkan bertambahnya kekuasaan dan pengaruh mereka. Sangat menyenangkan untuk menyadari bahwa dalam memilih respon terhadap suatu keadaan ternyata juga dapat mempengaruhi perasaan dan tindakan kita. Coba simak cerita berikut. Ada seorang anak muda naik taksi. Saat naik ke dalam taksi, ia tersenyum dan mengucapkan selamat pagi dengan riang kepada sopir taksi. Sopir taksi ini menjadi ikut senang. Apalagi anak muda tadi bukan membayar Rp 14 ribu sesuai dengan argonya, melainkan membayar Rp 20 ribu sambil tersenyum dan mengatakan bahwa ia baru saja mendapat rejeki. Karena memang belum sarapan, sopir taksi ini pergi ke warung langganannya dengan gembira. Ia menyapa ibu tukang warung dengan riangnya sambil memesan nasi udukdengan ayam goreng (padahal biasanya hanya memesan tempe dan tahu goreng saja). Selesai makan ia membayar Rp 10 ribu (padahal tagihannya hanya Rp 8 ribu). Ia pun dengan gembira mengatakan kepada ibu tukang warung bahwa ia baru saja mendapat rejeki tambahan. Si Ibu tukang warung "ketularan" menjadi riang. Ketika anaknya pamit hendak berangkat ke sekolah, dengan senyum manis ia memberikan uang jajan kepada anaknya (padahal biasanya sang anak tidak pernah dibekali uang jajan). Ibu tukang warung berkata, "Nak, ini ibu beri uang jajan. Pagi ini ibu mendapat rejeki tambahan. Sekolah yang rajin dan pintar ya, Nak". Sang anak berangkat ke sekolah dengan riang dan mengikuti pelajaran dengan semangat. Siangnya, ia membeli kue dengan gembira dan membagi kue itu dengan temannya yang menerima dengan gembira pula. Anda bisa lanjtkan lagi rantai kegembiraan ini. Cerita di atas adalah contoh kecil yang memang sangat ideal. Namun, kalau setiap hati kita datang ke kantor dengan riang tersenyum, dan menyapa selamat pagi kepada setiap orang yang kita kenal, bukankah kita juga sudah menularkan energi positif kita kepada orng-orang tersebut? Mereka pun akan menularkan lagi energi positif ini kepada orang lain dan seterusnya. Cobalah praktikkan hal kecil ini di rumah, di kantor, atau di manapun Anda berada. Anda pasti akan terkaget-kaget dengan hasilnya. Jika Anda selalu menularkan sikap positif serta sadar dan bertanggungjawab akan sikap mental yang Anda ambil, percayalah Anda akan menjadi "anak emas"(di sadur dari Buku "5Jurus Jitu Melejitkan KARIR" karya, Ellies Sutrisna)
Welcome to Ellies Sutrisna"s Website
bar searchbar member Login
Fri Dec 09 2016 01:34 AM
bar newsletter
Welcome Guest Home | My Account | My Cart
bar list 1
Visitors 432692
bar total checkout
~cart_total_amount~
~cart_total_price~
footer
Copyrigth @ 2012 Ellies Sutrisna. All Rights Reserved
Jasa Pembuatan Website By IKT