Berpikir Menang-menangby, Ellies SutrisnaSejak kecil kita sudah dikondisikan untuk berpikir menang-kalah, dan itu terpatri sangat dalam. Seringkali bila dibandingkan dengan anak lain, Anda jadi selalu ingin menang dari anak tersebut. Contoh lain ketika orang tua mengatakan akan sayang kalau Anda rajin, akan dibelikan sepeda apabila menjadi juara kelas, dan banyak contoh lainnya. Sebenarnya kondisi ini sah-sah saja dalam situasi kompetisi. Namun, sayangnya kita jangn diajarkan untuk berpikir menang-menang.Ada dua orang anak yang berebut kue. Keduanya tidak ada yang mau mengalah. Akhirnya kue jatuh ke lantai dan tidak ada yang mendapat kue. Setelah melihat pemandangan tadi, barulah kita akn marah-marah dan mangatakan, "Kok kamu pelit, sih?" atau "Kenapa tidak dibagi saja, sih?"Mereka tidak dikondisikan sejak kecil bahwa apabila tersedia kue lebih dari jumlah anak maka setiap anak bisa mendapatkan masing-masing satu kue. Namun, bila jumlah kue lebih sedikit dari jumlah anak maka kita harus berbagi (ini adalah konsep menang-menang).Stu mentalitas lagi yang sering dijadikan acun. Yakni untuk menang, berarti harus ada yang kalah. Sekali lagi, ini hanya terjadi untuk olahraga atau dunia kompetisi. Dalam kehidupan nyata, banyak sekali kondisi menang-menang.Contohnya adalah penjual dan pembeli.a. Penjual menang karena apabila dagangannya ada yang membeli berarti akan mendapatkan keuntungan.b. Pembeli menang karena barang yang dibutuhkan berhasil diperoleh.Berpikir menang-menang adalah kebiasaan untuk menghargai antar pribadi. Hal ini memerlukan lathan pada masing-masing individu untuk berusaha belajar melihat.Diperlukan keberanian sekaligus pertimbangan yang besar untuk menciptakan keuntungan bersama ini, khususnya jika kita berinteraksi dengan orang yang naskah hidupnya ditulis untuk menang - kalah.Orang yang selalu berpikir menang-kalah kadang-kadang akan berakhir dengan kondisi kalah-kalah. Simak contoh dibawah ini.Penulis pernah melakukan negosiasi dengan seorang direktur sebuah perusahaan produsen kertas besar di Indonesia. Beliau meminta agar harga proyek sistem komputerisasi yang kami ajukan diturunkan hingga sangat rendah. keduabelah pihak telah mengetahui bahwa proyek tersebut adalah proyek jangka panjang. Oleh karena itu, kami (dari sisi penjual) pun harus mendapatkan keuntungan yang layak sehingga perusahaan penjual masih bisa berdiri untuk memberikan pelayanan purna jual kepada perusahaan pembeli. Jadi ini kondisi win-win. Anda tahu apa jawabannya? Dengan angkuh ia menjawab, "Oh tidak ada kata win-win dalam kamus saya, yang ada hanyalah win-lose. Kalau mau mau, silahkan ambil proyek ini dengan harga sekian. Kalau enggak, ya sudah pergi saja".Penulis berdiri sambil tersenyum, lalu berkata, "Wah, maaf, Pak. Kelihatannya filosofi kita memang tidak sesuai. Kalau begitu memang kita belum berjodoh di proyek ini. Mari permisi, Pak", sambio menganggukkan kepala dan tetap tersenyum, penulis berjalan dengan tenang ke luar pintu. Di sini penulis tidak menang, tetapi juga tidak kalah.Dalam kondisi seperti di atas, jangan terlalu emosi untuk mendapatkan proyek sehingga terjebak dalam posisi kalah. Lepaskan saja. Kita pun bisa berjalan tegar. Mungkin justru dia yang akan kalah karena tidak mendapatkan tenaga-tenaga paling handal di Indonesia untuk mengerjakan proyeknya.Beberapa bulan kemudian, saya mendengar bahwa proyek tersebut gagal total. Hal itu dikarenakan si penjual mungkin menjual dengan harga kelewat rendah sehingga tidak mampu meneruskan proyeknya. Si pembeli juga akhirnya harus melakukan tender ulang, yang artinya rugi waktu. Perusahaan kami sempat diundang lagi untuk tender ulang tersebut. Tentu saja kami tidak mau ikut lagi.Kondisi menang-menang ini pun harus diterapkan dalam kehidupan kita dalam setiap situasi dan kondisi.Penulis sering mendengar banyak keluhan dari para karyawan yang seolah-olah tenaganya habis diperas untuk kepentingan perusahaan. Kalau sekarang ini Anda merasa berada di posisi kalah-menang (perusahaan memeras tenaga Anda, perusahaan tidak fair, perusahaan mau menang sendiri) maka lakukan seperti apa yang saya lakukan dengan calon pelanggan tadi, LEPASKAN. Tidak mau? Mengapa? Karena Anda memang masih butuh gajinya? Atau karena belum ada perusahaan lain yang mau menerima Anda?Saran saya, ubahlah pola pikir Anda menjadi menang-menang.a. Anda menang karena mendapat gaji.b. Perusahaan menang karena mendapt tenaga/pikiran.Memang tidak selamanya kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Contohnya dalam kasus dua orang anak yang berebut satu kue. Dalam konsep menang-menang, anak tersebut akan membagi kuenya menjadi dua sehingga masing-masing akan mendapatkan hanya setengah bagian kue. Memang tidak sesuai dengan harapan awal, yaitu mendapat satu buah kue. Namun, lebih baik daripada berebut kue, lalu kuenya jatuh, dan keduanya tidak mendapat kue.Apabila Anda mengubah pola pikir menjadi menang-menang maka Anda akan lebih semangat bekerja. Hal ini dikarenakan Anda bekerja dengan perasaan sebagai seseorang pemennang bukan pecundang. Sesorang pemenang akan berjalan dengan tegak, kepala menghadap ke depan, senyum mengembang, melakukan pekerjaan dengan baik, dan seslalu berusaha mencapai prestasi lebih baik lagi.Anda pasti akan menjadi "anak emas" hanya dengan mengubah sedikit pola pikir. Jurus yang sangat sederhana, bukan ?(Disadur dari Buku "5 Jurus Jitu Melejitkan KARIR" karya Ellies Sutrisna)
Welcome to Ellies Sutrisna"s Website
bar searchbar member Login
Wed Dec 07 2016 05:16 AM
bar newsletter
Welcome Guest Home | My Account | My Cart
bar list 1
Visitors 432261
bar total checkout
~cart_total_amount~
~cart_total_price~
footer
Copyrigth @ 2012 Ellies Sutrisna. All Rights Reserved
Jasa Pembuatan Website By IKT